Pecinta Masa Lalu

•October 10, 2017 • Leave a Comment

Entah kenapa lagi ini, yang jelas aku tak suka.
“Bagian tanpa nama”, begitu lah aku menyebutnya.

Kita sudah kehilangan jejak waktu,
tapi mengapa kau tidak benar-benar kehilangan jejak di hatiku?
Tetap berbekas walau hanya seberkas.

Entah kenapa aku tak ingin berhenti terpaku pada kamu dan jejak masa yang telah hilang, yang bahkan tak layak untuk dikenang.
Padahal jejak itu nyata, juga bernyawa.
Indah tapi menyedot jiwa.

Aku tahu, aku tak patut berkiblat pada waktu yang tertinggal.
Tapi lagi lagi benakku berdengung, otakku pun mulai berdesing berputar mengumpulkan waktu yang tercecer di belakangku.

Seseorang – siapa saja – tolong sadarkan aku.
Jangan biar kan bisa memoar dirinya yang indah ini membunuhku.

Yogyakarta – 29 Juli 2011 (repost)

 

 

Advertisements

Topik Bahasan Pasien dan Penyintas Kanker

•August 31, 2017 • Leave a Comment

Tempo hari gue menjenguk teman yang kabarnya tidak sadarkan diri. Setibanya di rumah sakit gue kaget karena beliau masih botak. Selama ini gue dan beliau memang sudah sama-sama jarang aktif di grup. Ternyata 6 bulan setelah selesai terapi kanker payudara, kankernya menyebar ke ovarium. Sialnya ovariumnya nda bisa diangkat karena menempel dengan pelvik. Hasil scan juga menunjukkan jika otak dan tulang belakangnya terdapat kanker yang metas.

Okay… Mari kita bahas tentang obrolan-obrolan para penyintas maupun pasien kanker.

1. Topik utama yang paling sering kami angkat tentu saja kanker yang masing-masing kami derita, baik penyebaran, pengobatan dan efek sampingnya. Hal ini cangkupannya luas banget ya, pengetahuan kita tentang kanker malah nambah banyak.

2. Berbagi curahan hati. Ini yang paling mengaduk-aduk perasaan sekaligus melegakan banget. Tidak semua orang bisa mengerti kami, bahkan caregiver sekali pun. Mengapa kami bilang tidak mengerti? Karena tidak semua orang tahu tentang apalagi menyandang “invisible disabilities”. Ditambah lagi tekanan dari orang-orang sekitar, bahkan dari sesama pasien/penyintas sendiri.

3. Teman-teman senasib. Di sini kami tidak bergosip, di sini kami membicarakan bahkan membuat list siapa saja yang sudah selesai kemo, siapa saja yang sedang kemo, siapa yang kankernya menyebar ke mana, yang kondisinya naik turun, yang sibuk kerja/kuliah, berkeluarga dan yang terakhir; yang meninggal dan baru meninggal.

Hanya saja, bagi gue pribadi tiap menjenguk yang sedang diopname, pantang membahas tentang teman-teman yang sudah tiada, bahkan mengabarkan teman yang baru meninggal saja rasanya ngga enak.

Tau gak, terkadang berhenti berharap akan membuat lu terus jalan dan bertahan.

Tapi please jangan pergi dulu, gue gak siap. Gue gak pernah siap.

Stereotip Salah Tentang Kanker

•August 31, 2017 • Leave a Comment

Menjelaskan ulang beberapa stereotype terhadap pasien dan penyintas Kanker.

1. Gue sendiri awalnya mengira ada kehidupan normal setelah kanker. Ternyata engga! Ternyata normalnya penyintas itu beda, apalagi kalau salah satu atau beberapa hormon lu udah ga berproduksi. Itu efeknya banyak dan loe semakin menyadari jika sesungguhnya hidup loe ada lah bom waktu.

2. Rambut gue meski rontok tetap shine bright like a diamond ya shay, tapi temen gue malah botak dan menggendatz, sementara berat badan gue semakin turun. Jadi untuk pengetahuan kita semua, setiap pasien yang memiliki kanker dan terapi yang sama bukan berarti efek samping yang diderita juga sama.

3. Saat menjalankan kemoterapi banyak yang nggak mengira jika gue adalah pasien yang hendak kemo, karna gue melenggang di rumah sakit untuk menuju ruangan tempat gue kemo aja gue bawa-bawa ransel isi baju, buku dan laptop sambil makan eskrim dan mainan PSP. Look can be deceiving ya bok, tapi semangat harus berkobar dan senyum tetap harus mengembang, karna loe menolak kalah dari keadaan. Jadi otomatis insting manusia loe untuk bertahan hidup akan ngasi sinyal untuk terus semangat agar bisa survive. Itu juga sebelum anxiety menyerang. Bangsat bat kan.

4. Di Sardjito itu banyak adek-adek unyu yang ga berdosa sudah kena kanker. Kadang gemes aja kalau ada yang bilang seseorang terkena kanker karna tuhan ingin menghapuskan dosa-dosanya, apalagi pernah ada yang bilang, anak-anak yang kena kanker diakibatkan oleh orang tua mereka yang penuh dosa.
Mending kalian bantuin caregiver nyuci baju pasien yang penuh noda muntah, darah, bahkan cepirit.
Tapi no wonder sih, orang-orang yang suka ngomong macam itu tanpa mereka sadari memupuk penyakit hati karena terlalu banyak menghakimi. Jadi semoga saja tuhan menghapus dosanya.

5. Ingat! Semua orang pasti mati, bahkan kami dipaksa untuk terbiasa melihat satu persatu teman kami mati. Sesungguhnya, pengalaman berada di ambang hidup dan mati tidak membuat kami takut akan kematian. Yang kami takuti hanya kehilangan semangat untuk hidup apalagi selama ini kami hidup di bawah serangan depresi yang kapan saja bisa datang perlahan tanpa kami sadari.

Salam sehat!
Ren

Ansietas dan Terapi Kanker

•August 15, 2017 • 1 Comment

Saya pernah bilang, akan ada kehidupan indah setelah kanker. Padahal, hidup itu sendiri sesungguhnya indah; tidak peduli apa penyakitmu, apa kedudukanmu dan sebesar apa masalahmu. Hidup itu sesungguhnya indah bagi orang-orang yang bisa berdamai dengan diri mereka sendiri.

Itu yang luput saya ingat, terutama saat depresi melanda: Kamu bahkan tidak mengenali dirimu sendiri.

Serangan ansietas sempat saya alami selama menjalani radioterapi dan brakiterapi kanker tempo lalu. Hal itu semakin diperburuk oleh tekanan pekerjaan dan pribadi saya yang koleris serta perfeksionis. Setiap hari seperti dikejar-kejar sesuatu, tak jarang membuat tubuh panas dingin, dada sesak, jantung berdebar dan sulit bernafas. Menangis menjadi rutinitas saya siang dan malam, Diazepam menjadi sahabat saya saat menjalani terapi.

Ansietas saya semakin menjadi-jadi. Kelelahan fisik semakin membuat fikiran saya tidak karuan, saya menjadi sangat paranoid dan pekerjaan saya sepertinya tidak ada yang selesai. Saya butuh pertolongan, tapi saya tidak tahu harus berbicara kepada siapa karena saya tidak ingin menyusahkan siapa-siapa. Tapi efeknya, kesalahan sedikit aja mendadak membuat semua orang adalah musuh di mata saya. Saya sama sekali tidak mengenal diri saya sendiri, dan masa-masa ini berlanjut hingga beberapa bulan.

Saat saya menulis blog ini pun kelelahan fisik masih menghiasi hari-hari saya, tapi setidaknya saya merasa sedikit lebih enteng, mungkin karena masa-masa terapi kanker sudah berlalu. Dukungan teman-teman yang tidak pernah ada habisnya juga benar-benar menguatkan saya, padahal saya tahu mereka juga memiliki problematika hidup masing-masing yang tak kalah peliknya, terutama teman-teman sesama penyintas.

Mengidap kanker itu berat, terapinya tak kalah berat. Kamu divonis mati, kamu berada di antara hidup dan mati, bahkan kamu melihat satu persatu temanmu mati.

Tapi kamu harus kuat, karena kamu tahu bahwa sesungguhnya manusia itu makhluk yang rapuh.

Hey, Cancer! ( Persiapan Treatment)

•March 17, 2016 • Leave a Comment

Jadi… cerita sebelumnya… saya teh diponis kanker servix. Sebelum periksa lebih dalam seberapa jauh penyakit ngehek ini menjajah mahkota gue (chuy bahasa loe), atas rekomendasi pacar, gue menyempatkan diri untuk meditasi sebelum kembali lagi ke medis. Agar tetap tenang tabah tawakal mawaddah warohmah menjalani kehidupan yang penuh lika-liku ini lah, begitu… And it’s totally works!! Mau tau meditasi apa? Ntar lah gue cerita kalo lagi mood.

Jadilah gue balik lagi ke poli obgyn bagian onkologi yang sekarang jadi tempat nongkrong minimal 2 minggu sekali. Sampe hapal sama petugas medisnya dah ah.
Pertama-tama gue diperiksa dalem anunya itunya gue pake alat… sebut saja congor bebek (suka-suka gue donk nyebutnya, blog gue ini), dan diperkirakan jika gue terkena Kanker Servix stadium 1B, syukurlah masih termasuk dini. Saat itu gue langsung semangat nanya treatment apa buat  menumpas ini dan ga bikin nyebar, karena gue was-wasnya di situ. MENYEBAR.

Yang gue suka, dokternya langsung ngasi edukasi yang jelas. Dan jelas gue harus dioperasi Histerektomi — blah blah blah du bi du bi dam — yang bahasa indonesianya adalah pengangkatan kanker beserta rahimnya. Yang intinya gue tidak akan bisa memiliki anak lagi dari rahim gue sendiri. APPAAAAA?! *zoom in zoom out* (Saya sama pacar kan lagi ngayal-ngayalnya gimana perpaduan muka anak kami nanti. Gimana sih Dok?!) Lalu terjadilah tawar menawar di sini. Tapi tetap, langkah terbaik memang operasi. OKE DEAL!

Di depan dokter sok-sokan ngerjap-ngerjap nahan nangis, sampe luar Sardjito brebes mili tanpa suara. Ya namanya orang sedih ya bok, mana dilihat mas-mas tukang parkir yang lagi pada ngaso. Pas mereka nanya kenapa nangis, berasa pengen megang tangan salah satunya terus terak histeris ‘Mereka akan mengangkat rahim ku, Fernando! TIDAAAAAAAAAKKKK!!?’ Tapi kagak jadi dink, takut masnya kejang-kejang. Mending kejang-kejang, lah kalo masnya jatuh cinta? Kan ribet dunia persilatan. Yaudah princess lanjut jalan aja pulang ke kos.

Tapi ya, dipikir-pikir gue itu sangat-sangat beruntung. Gue pernah menikah, sudah punya jagoan ganteng, meski tampang pas-pasan gini juga ada yang khilaf macarin. Jadi kalau gue baper berkepanjangan karena rahim gue diangkat kok rasanya ga tau diuntung, ya? Sementara di luar sana masih banyak anak-anak yang minta diadopsi, pengen punya keluarga… dan lain sebagainya (yang ga enak aja kalo dilanjutin).

Sebelum operasi gue harus menjalani berbagai test dulu, jadi ga bisa sembarangat sayat-sayat aja (ya menurut loe nek?).

1. Test Kardiovaskuler atau test fungsi jantung. Cuma dijepet-jepet alat kayak penjepit jemuran gitu doank di dada (gile bahasa gue ya bokkk). Hasil graphiknya lucu deh, kayak sandi rumput. MUAAHAHAHAHAHA.

image

2. Test Thorax atau X-Ray a.k.a di RONSEN bagian dada. Ini supaya apaan sih Dok ya? Akika lupita.

3. Test darah (ini mah biasa tiap bulan sekarang. tsaelaaah…
)

4. CT Scan Kontras bagian abdomen. Kudu puasa dulu sebelum discan. SEDIH(pokoknya giliran gabisa makan dan gaboleh makan itu lah yang paling SIDIH). Ini nih kudu ngantri karena di sono mesinnya cuma satu. Doakan semoga pemerintah segera banyakin mesinnya, ya?

Kira-kira itu dulu sih persiapan sebelom hari H. Pokoknya… temen-temen yang senasib…

‘Jangan patah semangat karena akan ada kehidupan yang lebih indah setelah kanker‘.

Atau orang-orang terdekatnya yang lagi apes kayak eke begini…

Jaga kesehatan dan tetap semangat agar bisa terus mensupport mereka dengan semangat!’

Karena sesungguhnya kalian lah penyemangat kami.
WE CAN! I CAN!

Hey, Cancer!

•March 4, 2016 • 11 Comments

Cancer-You-Picked-the-Wrong-Bitch-T-Shirts

spreadshirt.co.uk

Tahu ga sih, life is good, suka banget ngasi kejutan. Saking baiknya, kejutannya kadang kebanyakan zonk semua. Tapi di balik zonk itu ada banyak kejutan-kejutan lain yang semesta kasi buat kita, baik itu berupa pelajaran, atau hiburan buat diketawain. In a nutshell… hidup itu indah Bang, seindah kalau kita lagi jatuh cinta. Dijejelin tai kotok juga senyum-senyum aja berasa dijejelin coklat. Diiih… apaan lagi ini bahas tai kotok??!! Contohnya nih…;

Setahun-dua tahunan lalu setelah berat badan gue turun drastis akhirnya gue berhasil naikin berat badan dengan cara ekstreem; MAKAN BARBEL! Kagak dink, minum obat herbal gitu deh sampai nafsu makannya membludak kayak arus mudik. Seneng donk gue jadi semog bin semlohay. Sampai akhirnya awal tahun lalu gue bleeding pada saat icik-eheum (gausah nanya ini apaan. pokoknya icik-eheum aja dah). Shock donk gue, mana banyak lagi pendarahannya. Disuruh ke UGD tapi gue mau mantau dulu karena kemaren baru kelar haid. Akhirnya siangnya pendarahannya ilang sama sekali. Fyuuh… (Ciyeee lega nih ye).

Tapi, kira-kira tiga atau empat bulanan kemudian pendarahan lagi di luar masa haid (mampus dah loe…). Pendarahannya gak banyak sih cuma sehari. Tapi tiga, empat atau lima hari kemudian keluar lagi. Keluarnya juga cuma seharian atau semaleman doank; misalnya pendarahannya malem, ntar siangnya kelar. Atau pendarahannya subuh, sorenya kelar. Curiga donk gue, tapi gue mencoba kalem dulu sambil searching-searching dan nyatet siklus pendarahannya juga. Kok hasilnya cenderung ke kanker serviks sih?

1. Pendarahan di luar masa haid
2. pendarahan saat berhubungan
3. cek di sini boleh loh daripada blog gue makin panjang

Padahal gue curiganya cuma kista doank. DI SINI LAH PRINCESS AGAK SEDIKIT PANIK. Tapi tenang… mungkin aja cuma kista. Tapi saat itu gue mikir, meski kanker sekalipun, gue siap menghadapi segalanya (eaaaaa… adek mah gitu anaknya kak, pasrahan). Puncaknya… gue bleeding lagi pada saat icik eheum (Waduh, beneran kanker dah nih). Yang sebelumnya gue menunda-nunda test papsmear karena males minta izin sama bos, akhirnya gue minta izin setengah hari buat ke RS ditemenin abang bule. Pas gue dipapsmear, perawat yang mau ngambil sampelnya bilang ke dokter, “Loh Dok, ini kok bentuknya aneh?”. Buset, maksudnya apa coba ngatain MINI RENY aneh? NGAJAK BERANTEM?!

Lalu dokternya bilang, “Ini langsung dibiopsi aja ya, buk?” (IBUUKKK?! alhamdulillah ya, biasanya dikira bapak sama cs yang jual hosting). Yasudah lah, saya manut aja sama dokter yang lebih ngerti dan pengalaman nanganin daleman Miss-V yang bentuknya bisa mendadak aneh-aneh.

Seminggu kemudian gue dan Abang Bule balik lagi ke RS lihat hasil laboratorium patologi anatomi. Dan hasilnya… (jreng,,,jreng… kamera zoom-in zoom-out) tidak lain dan tidak bukan adalah KANKER SERVIKS.
Yaaaay… life is a bitch, but cancer messed with the wrong bitch! I’m stronger than those fucking stupid useless cells. (MEEEH….)

Is my life funny? Absolutely yeah. No! But YEAAAAHH!

Dhamma

•January 9, 2016 • Leave a Comment

Sahabatnya berkata, percayalah hanya tuhan yang akan menolong, berserah diri kepada tuhan, apalagi kamu sakit, ingat mati.

Dia hanya tersenyum lalu bertanya, tuhan yang mana? Terlalu banyak tuhan.

Tuhan yang kamu yakini, yang kita yakini. Bersujud lah setiap waktu. Kalau tidak berserah diri, kapan kamu sembuhnya?

Saya tidak perlu meyakini tuhan versi apa pun, apalagi menjalani ritual keagamaan ini atau itu untuk sembuh, tidak juga untuk mengingat mati.

Saya hanya cukup meyakini dan percaya jika saya akan sembuh, karena saya yakin, pasti akan sembuh. Jika pun saya mati, saya pasti akan mati. Tidakkah semua orang hidup dan akhirnya mati? Tapi, jika pun saya mati, bagaimanapun caranya, apa pun penyebabnya, saya pastikan mati dengan keadaan hati yang damai, berserah diri dengan kematian itu sendiri.

Sebagai teman saya hanya mengingatkan, bertaubatlah. Ingat kehidupan di akhirat.

Jauh sebelum kamu mengatakannya, saya sudah bertaubat. Bertaubat dari kemelut di dalam diri saya sendiri. Dan saya merasa jauh lebih damai. Saya lebih bisa menerima segalanya dengan lapang dada, bonus fikiran yang lebih terbuka sehingga bisa melihat segala sesuatunya dari segala sisi.

Baiklah, namun aku tetap berdoa semoga kamu segera diberi hidayah.

Saya tahu kamu peduli, karena itu saya senang sekali bahkan sangat berterima kasih karena kamu sudah berbaik hati untuk mengingatkan.

Dan saya yakin, di mata tuhan, kamu sudah melakukan hal yang benar. Sisanya, biar saya yang memikulnya sendiri. Berbahagialah… berbahagialah…

Dia hanya menyampaikan apa yang dia rasakan, apa yang dia yakini. Namun dia tetap bersyukur memiliki teman seperti sahabatnya, yang berkata akan tetap menyertai namanya dikala sahabatnya itu berdoa.

Ada lagi yang bertanya, bagaimana kehidupan kamu di akhirat nanti, kamu saja tidak percaya surga dan neraka.

Lagi-lagi dia hanya tersenyum menjelaskan, saya tidak pernah memikirkan surga dan neraka. Saya memikirkan realita saat ini. Tapi saya percaya kebaikan, karena selalu bisa membawa kedamaian di dalam diri saya. Keburukan, kejahatan yang sengaja atau tidak sengaja saya lakukan, selalu saja bisa membawa dampak buruk ke dalam kehidupan saya bahkan orang lain. Begitu juga kemarahan, yang sampai sekarang masih susah untuk saya taklukkan.

Kembali lagi ke Surga dan Neraka. Bagi saya, jika saya mati, ya sudah.
I Only Life Once, memikirkan kematian apalagi kehidupan setelah kematian bagi saya hanya membuang energi. Jadi saya hanya memikirkan apa yang bisa saya perbuat sebelum saya mati.
Dan sesungguhnya, bagi saya, melakukan kebaikan itu untuk kedamaian diri saya sendiri, bukan demi mendapatkan tempat di surga.

Sudah dua kali temannya bertanya hal itu, yang terakhir kali saat mereka sedang camping. Dia bahkan merindukan si penanya dan berharap semoga kebaikan selalu menyertai orang-orang terdekatnya, juga seluruh makhluk di dunia.

Ada lagi yang nyeletuk, kamu atheist!
Lagi-lagi dia hanya tertawa, saya bukan atheist.
Jadi, apa?

Saya meyakini Dhamma.