Chat Sehat

•April 12, 2016 • Leave a Comment

Ada Startup baru nih,
http://chatsehat.com/

Chat Sehat adalah forum untuk berbagi info tentang penyakit kronis/langka yang berpartner bersama dokter dan beberapa ahli di bidang kesehatan.

Gue lihat masih baru sih, masih perlu banyak pembenahan (terutama di bagian UI. #eheum).

Intinya di sini kalian para pasien yang ingin berbagi info, caregiver atau yang sekedar ingin tahu seluk beluk berbagai penyakit kronis/langka, termasuk segala terapi-terapinya silakan pantengin terus ya!

Semoga karya anak bangsa ini bisa sukses ya, amiin…

View on Path

Kampanye Rambut Botak

•March 24, 2016 • 1 Comment

ini keren dan membuat terharu. Tapi bagi saya pribadi, rambut adalah sebuah kebanggaan. Mungkin bagi sebagian orang, apalah artinya seonggok rambut dibanding support yang diberikan kepada penderita kanker.
Padahal bagi saya pribadi, kesehatan kalian lebih penting. Melihat kalian selalu semangat dan menjaga kondisi kesehatan kalian saja bagi kami sudah cukup.
Sehat terus ya teman-teman.

View on Path

Hey, Cancer! ( Persiapan Treatment)

•March 17, 2016 • Leave a Comment

Jadi… cerita sebelumnya… saya teh diponis kanker servix. Sebelum periksa lebih dalam seberapa jauh penyakit ngehek ini menjajah mahkota gue (chuy bahasa loe), atas rekomendasi pacar, gue menyempatkan diri untuk meditasi sebelum kembali lagi ke medis. Agar tetap tenang tabah tawakal mawaddah warohmah menjalani kehidupan yang penuh lika-liku ini lah, begitu… And it’s totally works!! Mau tau meditasi apa? Ntar lah gue cerita kalo lagi mood.

Jadilah gue balik lagi ke poli obgyn bagian onkologi yang sekarang jadi tempat nongkrong minimal 2 minggu sekali. Sampe hapal sama petugas medisnya dah ah.
Pertama-tama gue diperiksa dalem anunya itunya gue pake alat… sebut saja congor bebek (suka-suka gue donk nyebutnya, blog gue ini), dan diperkirakan jika gue terkena Kanker Servix stadium 1B, syukurlah masih termasuk dini. Saat itu gue langsung semangat nanya treatment apa buat  menumpas ini dan ga bikin nyebar, karena gue was-wasnya di situ. MENYEBAR.

Yang gue suka, dokternya langsung ngasi edukasi yang jelas. Dan jelas gue harus dioperasi Histerektomi — blah blah blah du bi du bi dam — yang bahasa indonesianya adalah pengangkatan kanker beserta rahimnya. Yang intinya gue tidak akan bisa memiliki anak lagi dari rahim gue sendiri. APPAAAAA?! *zoom in zoom out* (Saya sama pacar kan lagi ngayal-ngayalnya gimana perpaduan muka anak kami nanti. Gimana sih Dok?!) Lalu terjadilah tawar menawar di sini. Tapi tetap, langkah terbaik memang operasi. OKE DEAL!

Di depan dokter sok-sokan ngerjap-ngerjap nahan nangis, sampe luar Sardjito brebes mili tanpa suara. Ya namanya orang sedih ya bok, mana dilihat mas-mas tukang parkir yang lagi pada ngaso. Pas mereka nanya kenapa nangis, berasa pengen megang tangan salah satunya terus terak histeris ‘Mereka akan mengangkat rahim ku, Fernando! TIDAAAAAAAAAKKKK!!?’ Tapi kagak jadi dink, takut masnya kejang-kejang. Mending kejang-kejang, lah kalo masnya jatuh cinta? Kan ribet dunia persilatan. Yaudah princess lanjut jalan aja pulang ke kos.

Tapi ya, dipikir-pikir gue itu sangat-sangat beruntung. Gue pernah menikah, sudah punya jagoan ganteng, meski tampang pas-pasan gini juga ada yang khilaf macarin. Jadi kalau gue baper berkepanjangan karena rahim gue diangkat kok rasanya ga tau diuntung, ya? Sementara di luar sana masih banyak anak-anak yang minta diadopsi, pengen punya keluarga… dan lain sebagainya (yang ga enak aja kalo dilanjutin).

Sebelum operasi gue harus menjalani berbagai test dulu, jadi ga bisa sembarangat sayat-sayat aja (ya menurut loe nek?).

1. Test Kardiovaskuler atau test fungsi jantung. Cuma dijepet-jepet alat kayak penjepit jemuran gitu doank di dada (gile bahasa gue ya bokkk). Hasil graphiknya lucu deh, kayak sandi rumput. MUAAHAHAHAHAHA.

image

2. Test Thorax atau X-Ray a.k.a di RONSEN bagian dada. Ini supaya apaan sih Dok ya? Akika lupita.

3. Test darah (ini mah biasa tiap bulan sekarang. tsaelaaah…
)

4. CT Scan Kontras bagian abdomen. Kudu puasa dulu sebelum discan. SEDIH(pokoknya giliran gabisa makan dan gaboleh makan itu lah yang paling SIDIH). Ini nih kudu ngantri karena di sono mesinnya cuma satu. Doakan semoga pemerintah segera banyakin mesinnya, ya?

Kira-kira itu dulu sih persiapan sebelom hari H. Pokoknya… temen-temen yang senasib…

‘Jangan patah semangat karena akan ada kehidupan yang lebih indah setelah kanker‘.

Atau orang-orang terdekatnya yang lagi apes kayak eke begini…

Jaga kesehatan dan tetap semangat agar bisa terus mensupport mereka dengan semangat!’

Karena sesungguhnya kalian lah penyemangat kami.
WE CAN! I CAN!

Hey, Cancer!

•March 4, 2016 • 11 Comments

Cancer-You-Picked-the-Wrong-Bitch-T-Shirts

spreadshirt.co.uk

Tahu ga sih, life is good, suka banget ngasi kejutan. Saking baiknya, kejutannya kadang kebanyakan zonk semua. Tapi di balik zonk itu ada banyak kejutan-kejutan lain yang semesta kasi buat kita, baik itu berupa pelajaran, atau hiburan buat diketawain. In a nutshell… hidup itu indah Bang, seindah kalau kita lagi jatuh cinta. Dijejelin tai kotok juga senyum-senyum aja berasa dijejelin coklat. Diiih… apaan lagi ini bahas tai kotok??!! Contohnya nih…;

Setahun-dua tahunan lalu setelah berat badan gue turun drastis akhirnya gue berhasil naikin berat badan dengan cara ekstreem; MAKAN BARBEL! Kagak dink, minum obat herbal gitu deh sampai nafsu makannya membludak kayak arus mudik. Seneng donk gue jadi semog bin semlohay. Sampai akhirnya awal tahun lalu gue bleeding pada saat icik-eheum (gausah nanya ini apaan. pokoknya icik-eheum aja dah). Shock donk gue, mana banyak lagi pendarahannya. Disuruh ke UGD tapi gue mau mantau dulu karena kemaren baru kelar haid. Akhirnya siangnya pendarahannya ilang sama sekali. Fyuuh… (Ciyeee lega nih ye).

Tapi, kira-kira tiga atau empat bulanan kemudian pendarahan lagi di luar masa haid (mampus dah loe…). Pendarahannya gak banyak sih cuma sehari. Tapi tiga, empat atau lima hari kemudian keluar lagi. Keluarnya juga cuma seharian atau semaleman doank; misalnya pendarahannya malem, ntar siangnya kelar. Atau pendarahannya subuh, sorenya kelar. Curiga donk gue, tapi gue mencoba kalem dulu sambil searching-searching dan nyatet siklus pendarahannya juga. Kok hasilnya cenderung ke kanker serviks sih?

1. Pendarahan di luar masa haid
2. pendarahan saat berhubungan
3. cek di sini boleh loh daripada blog gue makin panjang

Padahal gue curiganya cuma kista doank. DI SINI LAH PRINCESS AGAK SEDIKIT PANIK. Tapi tenang… mungkin aja cuma kista. Tapi saat itu gue mikir, meski kanker sekalipun, gue siap menghadapi segalanya (eaaaaa… adek mah gitu anaknya kak, pasrahan). Puncaknya… gue bleeding lagi pada saat icik eheum (Waduh, beneran kanker dah nih). Yang sebelumnya gue menunda-nunda test papsmear karena males minta izin sama bos, akhirnya gue minta izin setengah hari buat ke RS ditemenin abang bule. Pas gue dipapsmear, perawat yang mau ngambil sampelnya bilang ke dokter, “Loh Dok, ini kok bentuknya aneh?”. Buset, maksudnya apa coba ngatain MINI RENY aneh? NGAJAK BERANTEM?!

Lalu dokternya bilang, “Ini langsung dibiopsi aja ya, buk?” (IBUUKKK?! alhamdulillah ya, biasanya dikira bapak sama cs yang jual hosting). Yasudah lah, saya manut aja sama dokter yang lebih ngerti dan pengalaman nanganin daleman Miss-V yang bentuknya bisa mendadak aneh-aneh.

Seminggu kemudian gue dan Abang Bule balik lagi ke RS lihat hasil laboratorium patologi anatomi. Dan hasilnya… (jreng,,,jreng… kamera zoom-in zoom-out) tidak lain dan tidak bukan adalah KANKER SERVIKS.
Yaaaay… life is a bitch, but cancer messed with the wrong bitch! I’m stronger than those fucking stupid useless cells. (MEEEH….)

Is my life funny? Absolutely yeah. No! But YEAAAAHH!

Dhamma

•January 9, 2016 • Leave a Comment

Sahabatnya berkata, percayalah hanya tuhan yang akan menolong, berserah diri kepada tuhan, apalagi kamu sakit, ingat mati.

Dia hanya tersenyum lalu bertanya, tuhan yang mana? Terlalu banyak tuhan.

Tuhan yang kamu yakini, yang kita yakini. Bersujud lah setiap waktu. Kalau tidak berserah diri, kapan kamu sembuhnya?

Saya tidak perlu meyakini tuhan versi apa pun, apalagi menjalani ritual keagamaan ini atau itu untuk sembuh, tidak juga untuk mengingat mati.

Saya hanya cukup meyakini dan percaya jika saya akan sembuh, karena saya yakin, pasti akan sembuh. Jika pun saya mati, saya pasti akan mati. Tidakkah semua orang hidup dan akhirnya mati? Tapi, jika pun saya mati, bagaimanapun caranya, apa pun penyebabnya, saya pastikan mati dengan keadaan hati yang damai, berserah diri dengan kematian itu sendiri.

Sebagai teman saya hanya mengingatkan, bertaubatlah. Ingat kehidupan di akhirat.

Jauh sebelum kamu mengatakannya, saya sudah bertaubat. Bertaubat dari kemelut di dalam diri saya sendiri. Dan saya merasa jauh lebih damai. Saya lebih bisa menerima segalanya dengan lapang dada, bonus fikiran yang lebih terbuka sehingga bisa melihat segala sesuatunya dari segala sisi.

Baiklah, namun aku tetap berdoa semoga kamu segera diberi hidayah.

Saya tahu kamu peduli, karena itu saya senang sekali bahkan sangat berterima kasih karena kamu sudah berbaik hati untuk mengingatkan.

Dan saya yakin, di mata tuhan, kamu sudah melakukan hal yang benar. Sisanya, biar saya yang memikulnya sendiri. Berbahagialah… berbahagialah…

Dia hanya menyampaikan apa yang dia rasakan, apa yang dia yakini. Namun dia tetap bersyukur memiliki teman seperti sahabatnya, yang berkata akan tetap menyertai namanya dikala sahabatnya itu berdoa.

Ada lagi yang bertanya, bagaimana kehidupan kamu di akhirat nanti, kamu saja tidak percaya surga dan neraka.

Lagi-lagi dia hanya tersenyum menjelaskan, saya tidak pernah memikirkan surga dan neraka. Saya memikirkan realita saat ini. Tapi saya percaya kebaikan, karena selalu bisa membawa kedamaian di dalam diri saya. Keburukan, kejahatan yang sengaja atau tidak sengaja saya lakukan, selalu saja bisa membawa dampak buruk ke dalam kehidupan saya bahkan orang lain. Begitu juga kemarahan, yang sampai sekarang masih susah untuk saya taklukkan.

Kembali lagi ke Surga dan Neraka. Bagi saya, jika saya mati, ya sudah.
I Only Life Once, memikirkan kematian apalagi kehidupan setelah kematian bagi saya hanya membuang energi. Jadi saya hanya memikirkan apa yang bisa saya perbuat sebelum saya mati.
Dan sesungguhnya, bagi saya, melakukan kebaikan itu untuk kedamaian diri saya sendiri, bukan demi mendapatkan tempat di surga.

Sudah dua kali temannya bertanya hal itu, yang terakhir kali saat mereka sedang camping. Dia bahkan merindukan si penanya dan berharap semoga kebaikan selalu menyertai orang-orang terdekatnya, juga seluruh makhluk di dunia.

Ada lagi yang nyeletuk, kamu atheist!
Lagi-lagi dia hanya tertawa, saya bukan atheist.
Jadi, apa?

Saya meyakini Dhamma.

Darah oh Darah

•December 8, 2015 • 1 Comment

HB kurang 0.5pt dari batas normal aja, kalau mau kemo kudu transfusi. Andai punya pacar Edward Cullen, tinggal suruh doi ngider nyari darah brondong. #yekali.
Jadi inget waktu mau operasi elektif dulu, dokter ansthesi ngasi tahunya sehari sebelum operasi. Untungnya itu hari minggu, masi siang, kebetulan si Yuya jenguk dan kami cah socmed. Sibuk lah cari darah 4 kantong.

Ternyata nyari pendonor itu ga mudah. 10 dari pendonor, yang keterima paling 50%nya, itu juga untung-untung. Terpujilah orang-orang yang berbaik hati mendonorkan darahnya, termasuk sukarelawan yang sibuk bantu cari pendonor.

Dan di sini gue diuji. Dokter bilang, ibu kamar sebelah juga butuh darah B, dari hari sebelumnya masih kurang 2ktg lagi. Gue yang waktu itu jg nyari pendonor, ikutan bantuin ibu itu juga.
Tapi… pas ketemu sama anak ibu itu, anaknya itu bener-bener menjatuhkan semua harapannya ke gue, sampe-sampe temen sekamar gue bete dan ngedumel pas anak ibu itu pergi.

Mungkin anaknya lupa kalau gue juga pasien, ga bisa kemana-mana. Sendirian pula, karena mbahnya Rafael belum dateng. Jadi boro-boro gue ke PMI Sardjito buat ngecek, keluar ruangan aja disuruh masuk lagi sama suster. Sementara gue juga butuh 2 kantong darah lagi.

Saat itu gue mikir… gue cari buat gue dulu deh, baru buat ibu itu. Jadilah gue tetep sebar info dan telpon sana sini.

Lalu… dokter dateng dan bilang kalau gue kurang 1ktg lagi. Anaknya ibu itu juga masuk ke kamar gue dan tetep menjatuhkan harapannya ke gue untuk cari darah. Dimarahin donk doi sama dokter, orang gue pasien.

Puji tuhan ada beberapa pendonor yg nelpon dan bilang darah untuk gw sudah terpenuhi dan darah untuk ibu di kamar sebelah juga, karena gue kasi dua nama; Gue dan Ibu itu.

Malemnya anaknya ibu itu bilang ke gue ‘darah ibu saya sudah terpenuhi. Saya sudah bulak-balik nyari di PMI. Mbak juga sudah terpenuhi, ya? Alhamdulillah.’

Gue akuin gue bukan santa, bukan orang suci yg hatinya murni banget, malah cenderung sombong sampe2 bete karena ibu itu ga bilang terima kasih sama sekali.

Bitch Got Crabs

•September 11, 2015 • 3 Comments

Few Months ago i told my Big Bro that i wanted to donate my body parts when i die if necessary. Might be for medical research or someone who need transplant. Because i felt really really healthy that day, EVEN NOW! I can go to the Gym and do muaythai right now, or hike Mount  Merbabu and drink vodka or beer even if i feel pain in my waist. #dang!

But something weird happens, i felt not good about my body because i keep bleeding between my periods. I knew that’s not good, really really not good, but i kept talking to my self “there’s nothing wrong” even if i knew there must be something wrong. And it became more strange. #duh

So, last month i went to Hospital to get papsmear. And doctor who did the pap test was shocked and asked me to do biopsi, because there was something strange in my cervix. They also asked me to do Rapid Test for HIV because they saw tattoo in my hand. At first i thought it was nonsense and i was sure i was clean, but my brother and my doctor friend were motivated me because it’s important, so i did it anyway. Thank you, Guys…

After one week, i came back again to get the result. I was litle bit afraid about the HIV one but i kept myself calm by making sure everything was gonna be allright. Yhea, everything gonna be allright. I’m HIV Negative #fyuh.
Unfortunately the biopsi result was not really good because there’s precancerous changes in my cervix. They diagnosed me with Cervical Cancer but they didnt know how bad it was, so they referred me to Oncologist.

WEEKPOYNT_

Now i have to take some cervical cancer treatment in this public hospital, but the administration can be a bit dickish at times, because this government health insurance program i use is li’l bit confusing and complicated. It’s makes me difficult to figure it out because i am living alone while at the same time dealing with this crab. But thank you anyway, dear government.

government.