Logika VS Hati

Logika vs Hati

“Saya bukanlah orang yang bisa membedakan yang mana kejujuran dan ketulusan, karena saya bukan pembaca pikiran.”

~~

Seorang teman pernah bilang, “Pakai Hati, jangan Logika!” Sungguh sebuah saran yag membuat saya bertanya-tanya hingga saat ini.

Mungkin saja dia dan beberapa dari kita lupa jika hati tidak selamanya bisa menuntun ke sisi baik kehidupan, apalagi jika hati sudah disusupi oleh nafsu. Bahkan terkadang hati tidak selalu bisa menangkap aura positif.

Iya, saya tahu. Rasa dan Logika adalah anugerah. Ada saat-saat dimana perasaan menjadi pemeran utama, ada saat-saat logika mengalahkan segalanya. Sungguh dua hal yang masih sangat sulit saya satukan.

Tapi bagi saya, perasaan membuat manusia menjadi bodoh. Yang bodohnya, bagi sebagian orang dianggap manis dan diharapkan.
Maka jelaslah saya lebih memilih berlindung di balik logika. Karena sebagai manusia yang diberi akal dan fikiran, saya akan terus belajar dari pengalaman dan menolak untuk menjadi orang bodoh.

~~

Jika tepat, kamu bisa menjaga hati dengan logika.

View on Path

Advertisements

~ by Reny Payus on November 12, 2014.

3 Responses to “Logika VS Hati”

  1. Harus diseimbangkan lah. Hati dan logika itu sifatnya bukan substitutif tapi komplementer. Halah malah mbulet gini. 🙂

  2. Cinta ini…!!! kadang-kadang tagada loghikaaah…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: