Dhamma

Sahabatnya berkata, percayalah hanya tuhan yang akan menolong, berserah diri kepada tuhan, apalagi kamu sakit, ingat mati.

Dia hanya tersenyum lalu bertanya, tuhan yang mana? Terlalu banyak tuhan.

Tuhan yang kamu yakini, yang kita yakini. Bersujud lah setiap waktu. Kalau tidak berserah diri, kapan kamu sembuhnya?

Saya tidak perlu meyakini tuhan versi apa pun, apalagi menjalani ritual keagamaan ini atau itu untuk sembuh, tidak juga untuk mengingat mati.

Saya hanya cukup meyakini dan percaya jika saya akan sembuh, karena saya yakin, pasti akan sembuh. Jika pun saya mati, saya pasti akan mati. Tidakkah semua orang hidup dan akhirnya mati? Tapi, jika pun saya mati, bagaimanapun caranya, apa pun penyebabnya, saya pastikan mati dengan keadaan hati yang damai, berserah diri dengan kematian itu sendiri.

Sebagai teman saya hanya mengingatkan, bertaubatlah. Ingat kehidupan di akhirat.

Jauh sebelum kamu mengatakannya, saya sudah bertaubat. Bertaubat dari kemelut di dalam diri saya sendiri. Dan saya merasa jauh lebih damai. Saya lebih bisa menerima segalanya dengan lapang dada, bonus fikiran yang lebih terbuka sehingga bisa melihat segala sesuatunya dari segala sisi.

Baiklah, namun aku tetap berdoa semoga kamu segera diberi hidayah.

Saya tahu kamu peduli, karena itu saya senang sekali bahkan sangat berterima kasih karena kamu sudah berbaik hati untuk mengingatkan.

Dan saya yakin, di mata tuhan, kamu sudah melakukan hal yang benar. Sisanya, biar saya yang memikulnya sendiri. Berbahagialah… berbahagialah…

Dia hanya menyampaikan apa yang dia rasakan, apa yang dia yakini. Namun dia tetap bersyukur memiliki teman seperti sahabatnya, yang berkata akan tetap menyertai namanya dikala sahabatnya itu berdoa.

Ada lagi yang bertanya, bagaimana kehidupan kamu di akhirat nanti, kamu saja tidak percaya surga dan neraka.

Lagi-lagi dia hanya tersenyum menjelaskan, saya tidak pernah memikirkan surga dan neraka. Saya memikirkan realita saat ini. Tapi saya percaya kebaikan, karena selalu bisa membawa kedamaian di dalam diri saya. Keburukan, kejahatan yang sengaja atau tidak sengaja saya lakukan, selalu saja bisa membawa dampak buruk ke dalam kehidupan saya bahkan orang lain. Begitu juga kemarahan, yang sampai sekarang masih susah untuk saya taklukkan.

Kembali lagi ke Surga dan Neraka. Bagi saya, jika saya mati, ya sudah.
I Only Life Once, memikirkan kematian apalagi kehidupan setelah kematian bagi saya hanya membuang energi. Jadi saya hanya memikirkan apa yang bisa saya perbuat sebelum saya mati.
Dan sesungguhnya, bagi saya, melakukan kebaikan itu untuk kedamaian diri saya sendiri, bukan demi mendapatkan tempat di surga.

Sudah dua kali temannya bertanya hal itu, yang terakhir kali saat mereka sedang camping. Dia bahkan merindukan si penanya dan berharap semoga kebaikan selalu menyertai orang-orang terdekatnya, juga seluruh makhluk di dunia.

Ada lagi yang nyeletuk, kamu atheist!
Lagi-lagi dia hanya tertawa, saya bukan atheist.
Jadi, apa?

Saya meyakini Dhamma.

Advertisements

~ by Reny Payus on January 9, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: